Kamis, 12 Juni 2008

Logo Museum H. Widayat



Pada awal berdirinya logo Museum H. Widayat didisain oleh Aming Prayitno (murid sekaligus rekan kerja H. Widayat di ISI Yogyakarta) yang diminta kesediaannya oleh H. Widayat dan Hj. Soemini.
Logo berbentuk segi empat dengan siku melengkung melindungi huruf M, H dan W yang dirangkai secara vertikal dengan porposional memiliki makna keseimbangan, sedangkan apabila diamati rangkaian/kesatuan huruf MHW menyerupai buku dan juga pintu terbuka, yang memberikan makna bahwa Museum H. Widayat merupakan sarana untuk menimba ilmu dan selalu terbuka bagi semua orang/kalangan.

Pada tahun 2001 logo Museum H. Widayat mengalami perubahan, dengan masih tetap mempertahankan rangkaian huruf MHW sebagai utamanya, logo dibuat dalam format lingkaran/melingkar (tanpa merubah makna logo awal) serta mencantumkan tiga rangkaian nama bangunan utama kompleks museum : Museum H. Widayat, Galeri Hj. Soewarni (d/h Galeri Widayat), Artshop Hj. Soemini disekelilingnya. Tiga buah garis siku pada bagian atas dan dua buah garis siku bagian bawah, mencerminkan buah kasih perkawinan H. Widayat dengan Hj. Soewarni (dua putri dan tiga putra), sedangkan garis vertikal sisi sebelah kiri dan kanan huruf MHW, mencerminkan buah kasih perkawinan H. Widayat dengan Hj. Soemini (enam putra) yang apabila dijumlahkan keseluruhan garis berjumlah 11 untuk mencerminkan kesebelas putra-putri H. Widayat.
Pemilihan warna dominan orange dikarenakan warna orange dianggap warna yang dinamis, dimaksudkan untuk menandakan bahwa Museum H. Widayat adalah museum yang dinamis dan aktif, selalu mempunyai keinginan untuk maju dan berkembang.
Penambahan dua nama (Hj. Soewarni dan Hj. Soemini) dilakukan seiiring perkembangan dan berdirinya Galeri Hj. Soewarni serta Artshop Hj. Soemini. Pemberian kedua nama pada bangunan tersebut adalah untuk mengabadikan dua orang yang paling berjasa dalam hidup H. Widayat yang telah menjadikan seorang H. Widayat menjadi seniman besar.
Perubahan logo tersebut merupakan konsep dan disain Drs. Fajar Purnomo Sidi M.M. (Putra H. Widayat) dan Oscar Samaratungga (Cucu H. Widayat).

Sertifikasi Lukisan Karya H. Widayat

Sertifikasi di Museum H. Widayat dimaksudkan sebagai tindakan preventif untuk pencegahan pembajakan, menghindari pemalsuan karya H. Widayat, maka museum H. Widayat mengeluarkan sertifikat yang menyertai lukisan atau karya yang terjual. Dengan metode pengamanan yang canggih diharapkan para pecinta seni/kolektor tidak terkecoh dengan membeli karya asli tapi palsu yang memang banyak beredar.
Pengambilan keputusan tentang keaslian lukisan dirumuskan bersama antara Direktur dengan Dewan Kurator Museum H. Widayat.

Rabu, 11 Juni 2008

Mengenal Lebih Jauh H. Widayat

Dilahirkan tanggal 9 Maret 1919 di Kutoarjo, Jawa Tengah dari ayah Danunoto dan Ibu Jumi. Widayat adalah anak pertama dari lima bersaudara, dan satu-satunya yang terjun di bidang kesenian (seni lukis). Dan bakat seninya itu tumbuh dari ibunya sebagai pembatik.

Pengalaman seni lukis Widayat cukup mengesankan, setelah tamat HIS (Sekolah Belanda) di Trenggalek tahun 1937, ia pindah dan belajar di Bandung, Jawa Barat. Di kota inilah ia bertemu dengan “pelukis hari minggu” Mulyono, dan dapat dikatakan bahwa dari situlah karir kesenilukisan Widayat dimulai.

Tahun 1939, Widayat melamar sebagai pegawai kehutanan sebagai mantri opnamer (juru ukur) dan ditempatkan di Palembang selama lebih kurang tiga tahun. Masa tiga tahun sebagai juru ukur kebun karet sangat membekas dalam hatinya. Ini terlihat dalam sebagian karyanya yang banyak diilhami pengamatannya tentang alam, hewan dan tumbuhan.

Widayat melepas pekerjaannya di hutan karet saat Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942. Ia beralih menjadi juru gambar membuat peta rel kereta api Palembang. Tahun 1945 ia bergabung dengan PMC (Penerangan Militer Chusus), dengan pangkat Letnan Satu dan selanjutnya bergabung dengan divisi Garuda Sumatera Selatan tahun 1945-1947, sebagai Pimpinan Seksi Penerangan.
Di tempat inilah Widayat baru bisa meneruskan kembali semangat berkeseniannya lewat publikasi poster perjuangan.

Tahun 1950 ketika ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) dibuka di Yogyakarta, Widayat masuk dan menjadi salah satu dari 45 mahasiswa pertama yang di terima di lembaga baru tersebut. Hal itu karena dia mendapat rekomendasi dari Kantor Urusan Demobilisasi Pelajar (KUDP) yang berkaitan dengan jasanya sebagai prajurit di Sumatera Selatan (1945-1947).
Kawan mahasiswa ASRI seangkatannya antara lain : Hendro Jasmoro, Abas Alibasyah, Edhi Sunarso, Saptoto, Bagong Kussudiardjo, Gambiranom, Gregorius Sidharta, Abdul Kadir, R. Soetopo dan H.M. Bakir.
Sistem pendidikan yang diberlakukan ASRI pada waktu itu disebut dengan “Sistem Proyek Global”, yaitu suatu sistem yang memberikan keberanian dan kebebasan penuh kepada para siswa khususnya dalam pelajaran praktek.
Berkat kerja keras dan bimbingan salah satu dosennya (Hendra Gunawan), tahun 1954 Widayat dapat menyelesaikan ASRI nya.
Bersama-sama rekan seangkatannya yakni Sayoga, G. Sidharta, Murtihadi dan Suhendra, ia (Widayat) mendirikan PIM (Pelukis Indonesia Muda) di Yogyakarta. PIM merupakan sanggar yang menghimpun para seniman seni rupa yang ingin beraktifitas. Sambil aktif di PIM, Widayat dipercaya kembali ke almamaternya untuk mengajar di ASRI.

Ada hal yang tak kalah menariknya, apabila kita juga tahu akan kehidupan pribadinya yaitu Widayat ternyata mampu hidup berpoligami.
Pada tahun 1942 Widayat kawin dengan gadis cantik tetangganya bernama Soewarni dari Kutoarjo.
Dari hidup berumah tangga dengan Soewarni (isteri pertama), Widayat dikaruniai 5 (lima) orang anak (2 perempuan, 3 laki-laki), yang sekarang semua anaknya itu sudah berumah tangga.
Kemudian pada tahun 1959 Widayat menikah untuk kedua kalinya dengan Soemini, asal dari Purworejo. Dari hasil perkawinanya itu juga membuahkan anak dengan jumlah enam orang anak (6 laki-laki). Dan semua anak-anaknya tersebut juga sudah berumah tangga.

Tahun 1960, Widayat memperoleh kesempatan belajar ke Jepang hingga tahun 1962 dengan menekuni atau memperdalam bidang seni keramik, ikebana, pertamanan (gardening) dan grafis.
Begitu kembali ke Yogyakarta, ia ditunjuk sebagai Ketua Jurusan Seni Dekorasi (kini bernama Disain Ruang Dalam) dari tahun 1962-1983.
Pengalamannya sebagai Ketua Jurusan Diruda (Disain Ruang Dalam) dan semangatnya untuk mencoba berbagai media kesenian, ikut mendorong semangat mengkoleksi berbagai karya seniman-seniman yang dikenalnya.
Selain itu Widayat sendiri ternyata juga menjelajah wilayah seni patung, kriya dan mixed media.
Selama berpuluh tahun mengajar, ia tidak pernah menghentikan aktifitasnya dalam melukis (berkarya), dan bersamaan dengan itu, ia juga melakukan pameran di berbagai tempat dan mendapat berbagai macam penghargaan.

Sejak menjadi pendidik di ASRI muncul obsesi untuk mendirikan museum, terlebih setelah pulangnya Widayat dari Jepang (1962). Niat dan keinginan mempunyai museum itu baru terwujud pada tahun 1994. Dengan bangunan megah, museum itu berdiri, terdiri atas dua lantai di Sawitan, Kota Mungkid Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Pendirian museum di Kabupaten Magelang ini dapat terwujud setelah berbagai tempat yang dijajaki gagal.

Ia meninggalkan studionya yang terletak di sebelah selatan stadion Mandala Krida Yogyakarta (Sekarang Mien Gallery, Jl. Cendana 13 Yogyakarta) dan kemudian sepenuhnya menempati dan tinggal di museumnya di Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Tahun 1998 Widayat memasuki masa pensiun dan tidak lagi mengajar di ASRI (sekarang Institut Seni Indonesia/ISI). Dan pada tahun 1989 Widayat bersama Soemini (istrinya kedua) menunaikan ibadah haji ke tanah Suci Mekah. Adapun pada tahun 1987, Soewarni (Istri Pertama) telah lebih dulu menunaikan ibadah hajinya di Tanah Suci Mekah.
Dan sejak itu, dalam karyanya tertera tanda tangan h. Widayat (“h” dalam huruf kecil).

H. Widayat wafat dalam usia 83 tahun, pada tanggal 22 Juni 2002 dan dimakamkan di Makam Seniman Imogiri Bantul Yogyakarta berdampingan dengan makam kedua isterinya Hj. Soewarni (meninggal, 22 Februari 1996) dan Hj. Soemini (meninggal, 6 September 2000 dalam usia 68 tahun) yang telah wafat mendahuluinya.

Biodata H. Widayat



BIODATA

Nama : H. Widayat (1919-2002)
Tempat/tanggal lahir : Kutoarjo, 9 Maret 1919
Alamat : Museum H. Widayat
Jl. Letnan Tukiyat 32, Mungkid, Magelang 56511
Telp. +62 293 788251, Fax. +62 293 789367
Email : mhw_widayat@yahoo.com


PAMERAN DAN BEBERAPA PENGHARGAAN

Pameran :

1954 Pameran Pelukis Indonesia Muda (Young Indonesian Painters), N.V.G. Kolff en co, Jakarta, 3–13 Agustus.


1957 Pameran Art Exposition: Students and Teachers of Akademi Seni Rupa Indonesia, ASRI Building Yogyakarta, 18-23 September.


1961 Pameran Pelukis Kontemporer Indonesia di Balai Budaya, Jakarta, 30 Nopember – 8 Desember.


1962 Pameran Tunggal, Fine Art, Graphic and Ceramic by Widayat di Isetan Gallery, Tokyo, Jepang, 21–26 April.
Pameran Tunggal, Prints by Widayat, di Toyota Building Gallery, Nagoya, Jepang, 18–15 Oktober.


1963 Pameran Tunggal di Prasta Pandawa Gallery, Jakarta,
1–30 September.


1969 Pameran Satu Tahun Seni, di Galeri Seni Sono, Yogyakarta,
17–28 September.


1970 Pameran Tunggal di Goethe Institut, Jakarta, 6–14 Juli.
Pelukis Indonesia 1970, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta,
15-30 Agustus.


1972 Pelukis Indonesia 1970, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta,
15–30 Desember.


1973 Pameran Lukisan “Mostra Internazionale di Xilografia Contemporanea” di Galleria Dell Accademia Loggetta Lombardesca Ravenna, Italy, 20 Desember.


1974 Pameran ASEAN Tour Exhibition, di Jakarta, 22 April–21 Mei.
Pameran Tunggal di Hadiprana Gallery, Jakarta, Juni.
Pameran Lukisan “Resegna di Grafica Contemporanea Rotonda di Via Besana” di Commune di Milano Ripartizione Cultura, Italy.


1975 Pameran Sanggar Dewata di Denpasar, Bali, 6–22 Januari.
Pameran Pelukis Dan Pematung Indonesia, di Jakarta,
17–22 Desember.


1976 Pameran “A Century of Indonesian Art” di Balai Seni Rupa Jakarta, 20 Agustus–28 Nopember.


1978 Pameran Biennial III di Taman Ismail Marzuki, Jakarta,
14–30 Desember.


1980 Pameran Perspektif Kaligrafi Islam Indonesia, di Balai Sidang Jakarta, 1–3 September.
Pameran Singapore Arts Festival 1980, di Singapura,
12–23 Desember.


1981 Pameran Asian Art Exhibition, di Dacca,
Bangladesh, 4–31 Januari.
Pameran ASEAN Exhibition of Painting, Graphic Arts and Photography, di Jakarta, 1 Oktober–15 Nopember.


1982 Pameran Indonesia Biennial V, di Taman Ismail Marzuki,
Jakarta, 4–30 Desember.


1983 Pameran Seni Dan Patung Yogyakarta, di Purna Budaya, Yogyakarta, 17–23 Maret.
Pameran Tunggal, di Lembaga Indonesia-Perancis, Yogyakarta, 15 – 20 Desember.


1985 Pameran Tunggal, “A Retrospective” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 6–16 Pebruari.
Pameran Seni Dan Patung Yogyakarta, di Purna Budaya, Yogyakarta, 12–17 Pebruari.
Pameran Seni Rupa Nasional,di Galeri Seni Ancol, Jakarta,
20–26 Mei.

1986 Pameran Seni Rupa, di Purna Budaya Yogyakarta,
12–27 Januari.
Pameran Bersama, 50 Seniman dari Jakarta – Bandung, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 11–17 Pebruari.


1988 Pameran Bersama, Delapan Pelukis Penerima Anugerah Seni, di Gedung Pameran Seni Rupa, Depdikbud, Jakarta,
11–17 Januari.
Pameran Bersama Affandi–Widayat-Nyoman Gunarsa–Rudana, di Fine Art Gallery, Ubud, Bali, 11–20 Juni.
Pameran Tunggal, Purna Tugas Widayat, di FSRD (Fakultas Seni Rupa Disain) ISI Yogyakarta, 19–25 Nopember.


1990 Pameran Tunggal, “70 Tahun Widayat” di Bentara Budaya Jakarta, 18 Januari–2 Februari.
Pameran Modern Indonesian Art, Tour Exhibition, di Amerika Serikat, 1990–1991.


1991 Pameran Tunggal, di Galeri Mon Deccor Gallery, Jakarta,
8–19 Maret.
Pameran Akbar Pelukis-Pelukis Indonesia, di Garden Palace Hotel, Surabaya, 5–15 Agustus.
Pameran Tunggal, di Bali Padma Hotel, Kuta, Bali,
22 Desember–5 Januari.


1992 Pameran Tunggal, Lukisan Akrilik Widayat, di Santi Fine Art Gallery, Jakarta, 23 Oktober–7 Nopember.
Pameran Asian International Art Exhibition, di Gedung Merdeka, Bandung, 14–30 Nopember.


1993 Pameran Tunggal, di Bentara Budaya, Yogyakarta,
19–26 Januari.
Pameran “Indonesian Modern Art”, di De Oude Kerk, Amsterdam, Netherlands, 21 April–28 Mei.
Pameran Tunggal, di Bali Padma Hotel, Kuta, Bali, 26 Desember–3 Januari 1994.


1994 Pameran Lukisan “The Best of Indonesia” di Gedung Seni Rupa Depdikbud, Jakarta, 4–13 Nopember.
Pameran “Gebyar Seni 1994” di Galeri Mon Décor Gallery, Jakarta, 26 Nopember–6 Desember


1995 Pameran Tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta
14–19 Januari.


1996 Pameran Tunggal “77 Tahun Widayat” di Santi Fine Art Gallery, Jakarta, 30 April–12 Mei.
1998 Pameran “Seven Indonesian Figurative Artist” di Kuwait


1999 Pameran Tunggal “80 Tahun Widayat” di Museum H. Widayat, Mungkid, Magelang, 20 Maret.


2000 Pameran Tunggal “81 Tahun Widayat” di Galeri Nasional, Jakarta, Maret.


2001 Pameran Tunggal “Grand Opening of Mien Gallery” di Yogyakarta, 10 Maret. Pameran Tunggal “Grand Opening Galeri of Semarang” di Semarang, 7–22 April. Pameran Tunggal “Finger Prints of An Artist” di Gajah Gallery Singapura, April.


2002 Pameran Tunggal 83 Tahun H. Widayat “Makin Tua, Makin Menjadi” di Museum H. Widayat, Mungkid, Magelang,
16–30 Maret.
Pameran Bersama “Re-Kreasi” di Museum H. Widayat, Mungkid, Magelang, 28 September-12 Oktober.


2004 Pameran “Dekade” 10 Tahun Museum H. Widayat, di Museum H. Widayat, Mungkid, Magelang, 30 Mei-13 Juni.


2005 Pameran Bersama “FASHIONING MODERNITY : SEVEN INDONESIAN MASTERS” Art Retreat, Singapura,
8 Oktober 2005-31 Maret 2006


2006 Pameran Bersama Permuseuman Dan Kepurbakalaan Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di Gedung PGRI (Pesatuan Guru Republik Indonesia) Cilacap,
02-06 Mei.
Pameran “Dualima Minus Satu” IKAISYO (Ikatan Istri Seniman Yogyakarta) di Taman Budaya Yogyakarta, 12-28 September.
Pameran Bersama “Icon Restropective” di Jogja Gallery, Yogyakarta, 19 September–19 Nopember.
Pameran Bersama “Jogja Sketsavaganza” di Taman Budaya Yogyakarta, 28 Desember 2006–8 Januari 2007


2007 Pameran Bersama Permuseuman Dan Kepurbakalaan Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, 02-07 Mei.
Pameran Bersama Permuseuman Dan Kepurbakalaan Propinsi Jawa Tengah di Gedung Olah Raga Mahesa Jenar Purbalingga, 06-10 Agustus.
Pameran Tunggal “Widayat Beetwen Worlds : A Retrospective” di Singapore Art Museum, Singapura,
13 September–28 Oktober.

Penghargaan :

1952 Penghargaan dari Badan Musjawarat Kebudajaan (BMKM)
1972 Anugerah Seni Art Award dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
1973 Pemenang Pertama Indonesia Biennialle I
1986 Penghargaan Yogyakarta Biennialle
1987 Lempad Prize
1993 Penghargaan Asean Art Award
1994 Penghargaan Budaya Upa Pradana dari Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Tengah.
2002 Satyalancana Kebudayaan

Selasa, 10 Juni 2008

Esai Penuturan H. Widayat pada peresmian Museum Haji Widayat.

Mungkid, 30 April 1994

“Naik Haji dan Mulai Membuat Museum”

Ide membuat museum ini tercetus, setelah kami kembali dari Jepang dari belajar keramik, tata taman dan ikebana di sana.
Kembali dari Jepang, kami mengajar di ASRI lagi (sekarang ISI). Oleh saudara Abas Alibasjah, direktur ASRI pada waktu itu, kami mendapat tugas mengajar praktek seni lukis di bawah ketua jurusannya, Saudara Fadjar Sidik.
Waktu itu Fadjar Sidik menyarankan pada kami, alangkah baiknya bila kami mempunyai inisiatif mengumpulkan karya-karya mahasiswa yang terbaik. Siapa tahu nanti busa dimuseumkan untuk dapat dijadikan studi banding bagi generasi yang akan datang.
Pada periode zamannya Bapak Katamsi, lukisan-lukisan hasil karya mahasiswa pernah penuh memadati gudang. Gudang semakin hari semakin padat, tidak dapat menampung karya mahasiswa dan akhirnya gudang tersebut dibongkar.
Lukisan-lukisan yang bermutu campur aduk dengan yang jelek-jelek dan kemudian dibuang menjadi rayahan para pegawai Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia/STSRI “ASRI” dan siapa saja yang berminat mengambilnya secara sukarela.
Pada waktu itu karya seni memang sukar laku, tidak seperti sekarang ini.
Pada tahun 1962 itu kami mulai mengoleksi karya-karya mahasiswa yang dalam ujiannya mendapat nilai A atau B, untuk nantinya bisa dimuseumkan.
Mereka dengan ikhlas menyerahkan karyanya dan merasa bangga karena mereka sudah dapat pastikan bahwa karya-karya yang dipilih nilai ujiannya pasti A atau B.
Semenjak tahun 1962 sampai hari-hari menjelang pensiun (lebih kurang 25 tahun) telah terkumpul lebih kurang 200 karya.
Nilai sebuah karya seni menurut kami bukan tergantung pada muda atau tuanya Si-seniman yang membuatnya.
Sebagai illustrasi, lukisan-lukisan Picasso pada usianya ke-16 sampai 19 tahun begitu hebatnya, yang harganya pada waktu itu sangat murah, namun sekarang bisa laku sampai jutaan dolar. Begitu juga pelukis-pelukis dunia lainnya, karya-karya yang dibuat pada masa mudanya sekarang ini dicari para kolektor dunia dengan harga terlalu fantastis untuk dipikirkan.
Melanjutkan mengenai mula berdirinya dan nama museum ini dapat kami tekankan bahwa semua itu atas karunia Tuhan Yang Maha Kuasa. Museum ini merupakan pemberian Tuhan Yang Maha Pengasih.
Semenjak tercetus ide ingin membangun museum, sejak tahun 1962-1963 kami selalu berdo’a, mohon kepada Tuhan agar dikabulkan impian kami itu. Sampai pada tahun 1989 mulai ada titik terang, yang mana pada suatu hari tahun 1989 datang seorang kolektor dari Jakarta mengambil satu lukisan berjudul “Monkey Forest” dengan harga yang mahal. Belum pernah sebelumnya kami menerima uang sebanyak itu.
Meskipun uang belum kami terima seluruhnya, rasa puas selalu menyelubungi perasaan kami. Sedang enak-enak membayangkan uang yang begitu banyak yang akan singgah di kocek kami, kok tiba-tiba ……… Ibu Widayat mempunyai usul yang sangat mengejutkan, begini :
“ Pak …. Bagaimana kalau uang itu nanti kita pakai untuk naik haji? Sekarang ini tepat waktunya untuk pendaftaran. Kita kan sudah tua dan mumpung sekarang ini kita masih kuat dan …. “
Waduh, mak prempeng mendengar usul yang datangnya begitu tiba-tiba. Rasa owel, eman-eman, mangkel campur aduk, simpang siur di benak kami. Lha …… kok buat naik haji !
Nanti dulu ah …. Bu ! Jawab kami agak ketus dan kalau kami sudah kelihatan marah, ibu tidak berani melanjutkan bicaranya.
Malamnya, waktu mau tidur kami termenung, terngiang-ngiang usul ibu Widayat. Lama kami pikir, ternyata usul itu sangat mulia atau super mulia malahan.
Hati ini menjadi luluh, dan ibu Widayat yang sudah mulai tidur pulas kami bangunkan dan kami sepakat dengan apa yang diusulkan tadi siang.
Dalam hati, uang hasil jual lukisan kali ini kami gunakan untuk ibadah haji.
Akhirnya dengan tekad yang bulat kami mendaftarkan diri di pendaftaran haji tahun 1989.
Tetapi apa lacur, rupanya uang lukisan tidak lancar pembayarannya dan sampai sekarangpun juga belum lunas. Ketika kami ke Jakarta akan menagih kekurangannya, eee …… kolektor tersebut ternyata sakit keras dan sampai akhirnya meninggal dunia. Terpaksa kami ikhlaskan kekurangannya itu.
Namun kami merasa was-was, jangan-jangan untuk naik haji uang lukisan itu akan banyak kekurangannya.
Dalam keadaan yang serba salah itu, ternyata Tuhan Yang Maha Esa tetap melindungi kami ………
Datang lagi seorang kolektor juga dari Jakarta, memilih enam lukisan sekaligus dengan harga cukup banyak dan cash (kontan), cukup untuk ongkos naik haji beberapa kali (kalau mau). Alhamdulillah menunaikan ibadah haji berjalan sangat lancar.
Di tanah suci Mekah kerja kami hanya berdo’a dan berdo’a, memohon keselamatan dan kesejahteraan keluarga, tidak lupa memohon agar cita-cita untuk membuat museum dapat dikabulkan dan terlaksana.
Kembali dari Mekah pulang ke tanah air, setelah istirahat beberapa hari kami mulai melukis lagi, siap-siap untuk mengadakan pameran tunggal di Jakarta (Bentara Budaya).
Singkat cerita, pameran tunggal berjalan sangat sukses, juga beberapa kali ikut pameran bersama di Gallery lain sukses. Sehingga kami dapat mengumpulkan biaya cukup untuk memulai pembuatan museum ini.
Semua itu dapat terlaksana dan berjalan lancar, dapat kami rasakan berkat do’a yang tidak putus-putusnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dan semua itu, dipertebal lagi setelah kami membaca kata-kata mutiara dari Bapak AR. Fachrudin (almarhum), yang dimuat dalam koran Kedaulatan Rakyat untuk santapan rohani puasa yang bunyinya demikian :

“Cita-cita Untuk Kaya” .......... Oleh Bapak AR. Fachrudin, kalau ada yang berpendirian bahwa yang pokok asal beriman dan asal beribadah sedang harta benda itu nomor 2 (dua), pendirian itu adalah baik, tetapi baik menurut style lama. Style baru, kita harus mempunyai jangkauan menjadi putra Indonesia yang muslim, yang bertaqwa, rajin beribadah atas dasar ikhlas dan sadar, tetapi juga harus mempunyai rumah gedung indah yang bagus, yang lengkap dan mempunyai kendaraan bermotor bagus dan model terbaru. Selain itu air cukup, penerangan cukup, mebelair cukup dan isipun lengkap dan masih ditambah telepon, radio/televisi dan lain-lain. Serta secara batin kita rajin berjamaah, tekun membaca Al Qur’an dan paham artinya, rajin bertahajud, rajin sholat dhuha, gemar bersilaturahmi, tidak kikir, banyak berzakat, banyak bersodhaqoh, banyak berwakaf, banyak memberikan dana-dana untuk foqoro dan masakin, memperhatikan dan mampu membiayai banyak anak yatim, banyak membiayai berdirinya rumah sakit dan sebagainya. Cita-cita ini harus dibina disemangatkan, digembirakan mulai sekarang. Insya allah ............ man jadda wa jadda.

Kembali ke persoalan masalah awal mula berdirinya museum H. Widayat dapat kami haturkan sebagai berikut :
Karena kami orang Yogya, tentunya juga berusaha membeli tanahnya di daerah Yogya. Dan mengapa kami selalu mencari tanah di luar kota?
Ceritanya begini ......... !
Pada zamannya Pak Soedarso SP. menjadi Atase Kebudayaan di Negeri Belanda, kami sempat menginap di rumahnya, kemudian sempat juga diajak melihat Museum Kohler Muler yang letaknya jauh di luar kota, jauh dari keramaian kota.
Museum Kohler Muler ini sangat mempengaruhi kami dalam perencanaan untuk membangun museum di luar kota.
Kontan ........... setelah kembali ke tanah air kami membeli tanah di daerah dekat Padepokan Bagong Kussudiardjo. Ternyata daerahnya sangat gersang dan susah air ........, akhirnya kami batalkan.
Kemudian lain kesempatan kami beli lagi tanah di daerah Sleman. Daerah ini sangat subur, air melimpah dan akhirnya kami sepakat mulai untuk membangun daerah itu.
Dimulai dengan pengurukan tanah, yang telah menghabiskan biaya lebih kurang 6 juta rupiah. Baru saja pemborong akan menyiapkan meterialnya penduduk setempat mendadak mengirim surat kepada kami yang isinya para pemuda mengajukan tuntutan-tuntutan yang diluar akal wajar, antara lain :
Kami tiap tahun harus mengganti ganti rugi pada penduduk yang mempunyai sawah di kanan kiri gedung museum dengan alasan sawahnya akan berkurang hasilnya, karena sepanjang tahun diteduhi bangunan museum.
Di bawah museum harus dibangun terowongan untuk jalan kerbau dan harus diberi penerangan lampu.
Kalau museum sudah berdiri maka penghasilan parkir harus diserahkan kepada pemuda di sana.

Setelah membaca surat dengan isi tiga tuntutan itu, kontan kami putuskan untuk tidak melanjutkan pembangunan museum, meskipun telah mengeluarkan biaya 6 juta.
Bapak dan ibu serta saudara yang kami muliakan, waktu Bapak Affandi meninggal dunia, beliau meninggalkan sebidang tanah di daerah Pabelan, Mungkid, Kabupaten Magelang. Tanah itu di tawarkan pada kami oleh Ibu Affandi dan kami beli.
Sebelumnya kami mendapat penjelasan dari Ibu Lurah Pabelan (Lurahnya wanita) bahwa tanah itu dapat dibangun museum. Tetapi ternyata setelah kami mengurus IMB nya, dari Bupati mendapat teguran bahwa tanah itu termasuk jalur hijau dan tidak boleh untuk mendirikan bangunan.
Tetapi meskipun Bapak Bupati (Bapak Moch. Solihin waktu itu) melarang, beliau menyarankan supaya kami membeli tanah yang sekarang berdiri Museum Haji Widayat ini.
Maka dari itu, saya sekarang milik warga Magelang dan Yogyakarta.
Museum Haji Widayat ini merupakan museum pribadi karena dibangun dengan biaya dari hasil jerih payah kami dari melukis dan pameran lukisan. Oleh karena itu museum ini kami beri nama “MUSEUM HAJI WIDAYAT”
Sehingga dengan kerja ............. dan usaha tak mengenal menyerah pada tanggal 16 Agustus 1991 Pak Widayat dengan didampingi Sumini (isterinya) dan sekaligus manajernya mengadakan selamatan/kenduri peletakan batu pertama pembangunan museum.